Dian (di tengah berbaju merah) bersama Fulbrighter dari 28 Negara lainnya

 Dian Setiawan M saat ini merupakan dosen di Departemen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Bidang Keahlian Transportasi dengan Spesialisasi Rail Track and Pavement Engineering. Pada tahun 2018, ia berhasil menjadi salah satu penerima Beasiswa Fulbright Grants for Indonesian Lecturers-DIKTI. Beasiswa ini adalah beasiswa studi Doktoral di universitas Amerika Serikat yang diperuntukkan bagi dosen-dosen Indonesia. Program Fulbright itu sendiri adalah sebuah program Beasiswa untuk pertukaran pelajar internasional untuk sarjana, pendidik, mahasiswa pasca sarjana dan profesional, didirikan oleh Senator Amerika Serikat J. William Fulbright pada tahun 1946. Sebelum keberhasilannya meraih beasiswa ini, beberapa beasiswa sudah pernah dicobanya namun berujung kegagalan, diantaranya adalah Beasiswa LPDP (2015), BUDI-LN (2017), Beasiswa Islamic Development Bank (2017), dan Beasiswa Australia Awards (2017).

Dian sebelumnya mengenyam pendidikan S1-nya di Universitas Gadjah Mada (UGM), jurusan Teknik Sipil, yang dimulai pada tahun 2006. Selanjutnya pada tahun 2011, melalui Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, ia mengikuti program Master di dua universitas berbeda. Pertama ialah program Master di bidang Sistem dan Teknik Transportasi, Universitas Gadjah Mada. Kedua ialah program Master di bidang Railway Systems Engineering and Integration, The University of Birmingham, Inggris.

Hingga awal Februari 2018 silam, baginya studi di Amerika Serikat merupakan hal yang mustahil. Karena sepanjang pengetahuannya, biaya studi di Amerika Serikat sangat mahal, persyaratan admisinya juga sangat ketat dan tinggi, terutama untuk bidang studi Teknik Sipil. Ditambah pada tahun sebelumnya, rentetan kegagalan dalam mencari beasiswa ia alami. Namun berkat dorongan dari rekan-rekannya sesama dosen, serta dukungan penuh dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, maka Ia beranikan diri untuk melamar Beasiswa ini.

Syukur Alhamdulillah, di akhir proses seleksi, Ia menempati peringkat 12 dari total 42 orang yang lolos. Setelah dinyatakan lolos beasiswa, tidak serta merta langsung dikatakan sebagai seorang “Fulbrighter”. Dibutuhkan proses yang panjang selama 1 tahun untuk serangkaian Ujian GRE, TOEFL iBT, dan proses pendaftaran ke universitas di Amerika Serikat. Perasaan lega baru bisa dirasakan jika telah diterima minimal oleh 1 satu universitas di Amerika Serikat. Sehingga nilai GRE, TOEFL iBT, serta dokumen pendukung lainnya seperti Study Objective, Personal Statement, serta Research Proposal haruslah diatas rata-rata agar disetujui oleh pihak Admisi maupun oleh Professor di Universitas tujuan.

Diantara beberapa universitas yang menerimanya, akhirnya dengan beberapa pertimbangan penting, ia memilih untuk melanjutkan studi PhD di University of Nebraska-Lincoln, di bawah bimbingan Prof. Yong-Rak Kim, dalam lingkup pusat studi Nebraska Transportation Center dan Nebraska Center for Materials and Nanoscience. Prof Kim merupakan salah satu ahli dibidang Sustainable Infrastructure and Materials, Multiscale (nano-micro-meso-macro) Analysis and Modeling of Construction Materials and Infrastructure Systems, Multiphysics (thermo-, hygro-, chemical, and mechanical) and Multiphase Mechanics of Infrastructure Materials, dan Multifunctional Infrastructure Materials.

Dalam penelitiannya nanti, Ia akan mengembangkan desain komponen struktural jalur rel baru bernama Asphalt-Rubber Track-Bed (ART-Bed) dan sekaligus metode baru untuk meningkatkan ketahanan air dan panas pada struktur ART-Bed tersebut. Desain jalan rel baru ini diharapkan memiliki kemampuan untuk melayani koridor jalur kereta api berkecepatan menengah-tinggi dan juga lebih efisien daripada jalur kereta api konvensional karena kualitas struktural dan stabilitasnya yang lebih tinggi, kebutuhan pemeliharaan yang jauh lebih rendah, dan siklus masa pakai yang lebih lama. Ia juga mentargetkan bahwa jenis jalan rel ini dapat melayani perjalanan kereta api dengan kecepatan yang lebih tinggi (sehingga penumpang dapat mencapai tujuan lebih cepat) dan beban gandar yang lebih tinggi (sehingga kereta dapat membawa lebih banyak penumpang dan lebih banyak barang). Ruang lingkup penelitian ini juga untuk mengurangi biaya siklus pemakaian dengan meningkatkan daya tahan lapisan balas itu sendiri dan mengurangi konsumsi agregat balas yang akan mengarah pada serangkaian manfaat sosial-lingkungan. Melalui penelitiannya ini dan dengan kerjasama-kolaborasi bersama rekan-rekannya, ia bercita-cita dapat memajukan teknologi jalan rel pada sistem perkeretaapian Indonesia, dan mengukuhkan nama departemen dan institusinya, Teknik Sipil dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, sebagai salah satu pelopor pengembang teknologi infrastruktur perkeretaapian di Indonesia khususnya dan di dunia umumnya.